Camping Dan Glamping

Camping yang sudah menjadi identitas golongan kepanduan dan kepencinta-alaman, akhir-akhir ini ini, tengah menjadi isu terhangat baru dalam dunia pariwisata yang digemari oleh masyarakat lintas pengajaran, lintas strata ekonomi dan sosial malah lintas kelembagaan.

Isu camping dalam dunia pariwisata itu terjadi sebab kejenuhan pasar atas pariwisata massal yang beralih pada liburan atensi khusus dengan menekankan aspek penghayatan dan penghargaan lebih kepada aspek kelestarian alam, lingkungan dan kebiasaan (enviromentally and cultural sensitives), didorong secara ekologis, sesuai secara ekonomi, adil secara moral dan sosial.

Camping Dan Glamping

Secara bahasa pengertian Camping yaitu kesibukan yang dilaksanakan di alam terbuka, gunung dan atau pegunungan, hutan dengan kemah sebagai daerah tinggal sementara. Kesibukan camping mempunyai keterkaitan yang erat dengan kepanduan, kepencinta-alaman dan atau guna pemenuhan akan ruang tinggal sementara bagi beberapa atau golongan orang yang sedang melaksanakan perjalanan (baca : hiking atau trekking) kewilayah tertentu yang tak banyak dihuni oleh kelompok sosial manusia dan dengan tujuan khusus seperti penelitian di pedalaman hutan, ekspedisi puncak-puncak gunung, penggalian arkeolog, dls.

Daerah Camping dan Glamping


Beralihnya popularitas pasar pariwisata massal ke liburan atensi khusus sudah menjadi kans para organisator dan organisator pariwisata untuk membangun daerah camping dengan dengan konsep dan pendekatan yang beraneka, keberagaman konsep akan melahirkan ceruk pasar yang berbeda-beda antara satu daerah camping dengan daerah camping lainnya.

Penulis menduga terdapat empat karakter bumi perkemahan yang ada di Jawa Barat, perbedaan ini sudah menyusun ceruk pasar pelancong yang berbeda pada tiap karakternya, sebab fasilitas buatan dan kekuatan dukung lingkungan akan memberi pengaruh kekuatan kunjung pelancong untuk berkemah di sebuah camping ground, keempat karakter ini yaitu :

Family camp ; sebagaian besar camping ground yang mengakomodir karakter pelancong dari golongan keluarga mempunyai tingkat kenyamanan, kemanan dan peralatan fasilitas alam ataupun buatan yang cukup bagus untuk keperluan keluarga dikala berkemah, salah satu lainnya yang menjadi pertimbangan bagi golongan pekemping keluarga yaitu keberagaman venue yang ada dalam wilayah camping ground.

Mandiri camp ; yaitu mereka yang menciptakan daerah camping sebagai daerah bersantai dan berpetualang dialam bebas. Sebagain besar dari golongan ini diwakili oleh kaum muda dan golongan pendaki gunung yang tak semacam itu memandang kenyamanan dan fasilitas daerah berkemah, yang khususnya adanya fasilitas dasar untuk camping. Beberapa banyak daerah berkemah golongan camping mandiri berada di wilayah Taman Nasional dan puncak-puncak gunung dikala melaksanakan pendakian.

Camping golongan ; yaitu camping ground yang bisa menfasilitasi kesibukan gathering perusahaan, outbound, outing perusahasan, dan sebagiannya lagi bisa menfasilitas acara-acara kampus, pelatihan dan pengembangan SDM, dan lainnya. Camping ground yang bisa memenuhi pekemping dalam satuan golongan ini yaitu suatu daerah berkemah yang mempunyai fasilitas dasar sebagai camping ground dan fasilitas penyokong kesibukan seperti auditorium, barak, ruang kepanitian, dan fasilitas kesibukan, serta lainnya.

Glamping ; daerah glamping tak dikatogerikan sebagai bumi perkemahan sedangkan terdapat kata “camping” setelelah kata “glamorous“. Pelancong yang datang ke daerah glamping tak ubahnya seperti masuk ke sebuah resort atau hotel, dimana daerah glamping fungsinya cuma sebagai daerah menginap dikala bepergian. Hal ini bisa diperhatikan pada perusahasan penyedia daerah glamping yang dianggap sebagai resesntatif dari pakem Glamping di Jawa Barat adalah Highland Resort dengan konsep Mongolian tent yang menjadi kebiasaan masyarakat yang hidup nomaden pada perbatasan antara Rusia dan China