Bermalam di Sahara, Gurun Panas Terbesar di Dunia

Gimana, ya, rasanya bermalam di Gurun Sahara, gurun panas terbesar di dunia? Salah satu Wegonauts Indonesia, Mega Putri Caesaria, berkesempatan bertualang di gurun yang suhunya dapat menempuh 40 derajat celsius di siang hari ini. Yuk, simak ceritanya!

Sepuluh Jam Perjalanan Menuju Sahara

Petualangan Mega di Gurun Sahara bermula dari liburannya di Maroko bulan Oktober lalu. “Lazimnya, jikalau berharap ke Sahara (dari Maroko-red), berangkat dari Marrakech sebab lebih dekat daripada dari Fez,” ujarnya. Fez sendiri yaitu kota yang juga ramai dikunjungi turis seperti Marrakech.

Perjalanan Mega dan 7 sahabatnya menuju Gurun Sahara dicapai dalam waktu 10 jam dengan kendaraan beroda empat. Padahal jikalau berangkat dari Fez, butuh sekitar 12-13 jam sebelum hingga ke Gurun Sahara. Sambil bercerita, Mega menonjolkan foto-foto selama perjalanan yang tak keok indah dibanding Gurun Sahara itu sendiri.

Perjalanan ke Sahara diawali pagi hari. Dikala sang surya mulai meninggi, Mega dan kawan-kawan melintasi Tizi Atlas. Sejauh mata melihat, yang menonjol di sana yaitu jalan meliuk di atas bukit gersang. Sedangkan sang surya sedang terik,Mega dan rombongan konsisten turun dari kendaraan beroda empat untuk berfoto sebab panorama Tizi Atlas terlalu sayang untuk dilewatkan.

Sesudah makan siang, Mega sempat singgah di desa Ait Benhaddou yang membuatnya merasa sedang berada di planet lain. “Ini (Ait Benhaddou-red) itu nggak kayak di bumi, tetapi kayak di Mars,” ungkapnya. Perjalanan menuju Gurun Sahara dipotong dengan menginap semalam di Ouarzazate sebelum melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Hari kedua menuju Sahara malah tak keok mengasyikan. Perjalanan mereka via Gorges du  Toudra, jalan yang membelah tebing batu yang sungguh-sungguh tinggi.

Disambut Unta dan Surya Karam
Sesudah mencapai perjalanan jauh dari Marrakech, Mega dan kawan-kawannya mesti melanjutkan perjalanan naik unta untuk hingga ke lokasi tenda mereka. Mega mengakui jikalau unta yaitu transportasi yang paling tak nyaman selama dia berwisata di Maroko.

Sebab ini pertama kalinya naik unta jadi gue nggak tahu jikalau naik unta itu tinggi dan bumpy banget. Jangankan berfoto ketika di atas unta, duduk aja sulit untuk mencari posisi nyaman,” cerita Mega sambil mengakak. Setibanya di daerah tenda, dia disambut panorama sang surya karam di antara gundukan-gundukan pasir Gurun Sahara. Panorama yang bisa membayar ketidaknyamanannya dikala naik unta.

Bermalam di Tengah Gurun Pasir

Titik tenda yang menjadi daerah bermalam Mega di Gurun Sahara yaitu Erg Chebbi. “Kita ambil 3D2N untuk tur Sahara ini. Melainkan menginap di gurunnya cuma 1 hari sebab sisanya digunakan untuk perjalanan menuju sana dengan stop di daerah-daerah menarik di sepanjang jalan seperti Tizi Atlas, Ait Benhaddo dan Gorges du Todra,”. Bagi Mega, Erg Chebbi yaitu daerah menginap yang cukup relatif murah apalagi cuma untuk satu malam. Di sana terdapat kemah-kemah putih besar berisi dua daerah tidur untuk dua orang dan kemah-kemah kecil yang sering kali dibawa para pendaki gunung.